SENOVER SUDIRO PURBA (2025) BERJUMPA DENGAN TUHAN DAN SESAMA DALAM JARINGAN TERHUBUNG: KONSEP DASEIN DALAM PEMIKIRAN MARTIN HEIDEGGER DAN FILSAFAT RELASIONAL MARTIN BUBER SEBAGAI POROS REFLEKSI TEOLOGIS-FILOSOFIS ATAS TUHAN DAN SESAMA UNTUK MENGATASI FENOMENA HOMO BRUTALIS DALAM DUNIA DIGITAL. Final Year Projects (S1) thesis, Universitas Kristen Duta Wacana.
|
Text (Skripsi Teologi)
01210317_bab1_bab5_daftarpustaka.pdf Download (7MB) |
|
|
Text (Skripsi Teologi)
01210317_bab2-sd-bab4_lampiran.pdf Restricted to Registered users only Download (3MB) | Request a copy |
Abstract
Perkembangan dunia digital telah membentuk cara eksistensi baru manusia modern, yaitu In�der-WWW-sein (berada-dalam-dunia-digital), yang mengakibatkan terjadinya perubahan fundamental dalam pola relasi antarmanusia. Latar belakang penelitian ini adalah kegelisahan penulis terhadap semakin rusaknya relasi intersubjektif dalam dunia digital, ditandai dengan dominasi relasi "Aku-Itu", objektifikasi sesama, dan lahirnya fenomena Homo Brutalis – manusia yang kehilangan kepekaan terhadap sesama akibat interaksi yang kering secara etis dan relasional. Pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah: Bagaimana konsep intersubjektivitas Martin Buber, terutama relasi "Aku-Engkau", dapat menjadi poros refleksi teologis-filosofis atas Tuhan dan sesama guna mengatasi fenomena Homo Brutalis dalam dunia digital? Hipotesis yang dibangun adalah bahwa relasi "Aku-Engkau" menurut Martin Buber dapat membuka kembali ruang kesadaran manusia akan pentingnya kehadiran otentik dalam dunia digital serta memungkinkan keterbukaan terhadap kehadiran Ilahi, sehingga mendorong transformasi relasi dari dominasi menjadi dialog, dari manipulasi menjadi partisipasi. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif-hermeneutik, menelusuri karya-karya utama Martin Buber serta literatur teologis dan filosofis yang relevan, termasuk telaah kritis terhadap fenomena digital masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam dunia digital, relasi manusia cenderung mengalami degradasi menjadi relasi "Aku-Itu", yang berdampak pada alienasi dan kekerasan simbolik. Namun, melalui pemaknaan ulang relasi digital dengan perspektif “Aku-Engkau”, manusia dapat membangun ruang perjumpaan yang lebih manusiawi, dialogis, dan spiritual. Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa relasi "Aku-Engkau" bukan hanya membangun keutuhan relasi antarmanusia, tetapi juga membuka kemungkinan pengalaman kehadiran Allah di tengah dunia digital. Implikasi teologisnya adalah bahwa teologi relasi perlu diperluas ke ruang digital, dan pengalaman iman Kristen dapat dimediasi secara otentik dalam jejaring intersubjektif yang terbuka, penuh kasih, dan menghormati martabat sesama.
| Item Type: | Student paper (Final Year Projects (S1)) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Aku-Engkau, Intersubjektivitas, Dunia Digital, Martin Buber, Homo Brutalis, Teologi Relasi |
| Subjects: | B Filsafat. Psikologi. Agama > Filsafat (Umum) |
| Divisions: | Fakultas Teologi > Filsafat Keilahian |
| Depositing User: | Arta Adi Pratama |
| Date Deposited: | 24 Sep 2026 07:13 |
| Last Modified: | 24 Sep 2026 07:13 |
| URI: | https://repository.ukdw.ac.id/id/eprint/10548 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
